Posted in New2ngs Posting

Kisah Fantasy Anak-anak Yang Memukau Juga Orang Dewasa


 

 

 

Seorang bocah yatim piatu, diancam kematian – yang juga telah membunuh ayahnya, juga keadaan alam yang tidak memihak padanya.  Torak tidak punya teman manusia.  Torak sendirian  setelah ditinggal ayahnya, yang mati menyusul (jauh sebelumnya) ibunya.

Mulanya Torak kesukaran hidup sendiri.  Torak lapar, dan tidak ada yang dapat memuaskan lapar selain makan.  Untuk itu Torak bermaksud membunuh anak serigala yang tertinggal hidup saat kawanannya mati semua diterjang Basah Cepat. Tapi ada yang tidak biasa.  Entah Torak atau si anak serigala itu yang salah.  Torak dapat mengerti perasaan si anak serigala.  Torak tidak kuasa membunuhnya.  Bahkan, kilasan-kilasan deja-vu akhirnya membuat Torak semakin bingung akan hubungannya yang semakin erat dengan si anak serigala.

Torak yang kini berteman dengan si anak serigala mengatasi hidup seperti manusia purbakala.  Karena dia memang seperti itu.  Inilah kisah fantasy anak-anak terbaru dengan Torak sebagai tokoh dan setting waktu yang tidak biasa, zaman purbakala.

Manusia purba yang lazimnya hidup berkelompok dan berburuh di hutan sedang dalam ancaman bahaya setan dari Dunialain.  Torak dan ayahnya Fa adalah pengecualian.  Mereka memutuskan keluar dari klan-klan antar suku yang menetap sendiri di hutan.  Torak berkelana di rimba raya dan menghindari klan dan hidup jauh dari mereka. 

Michelle Paver berhasil membangun kerangka cerita yang cerdas, tegang/seru, terasa nyata dan mengharukan.  Dengan cepat pembaca akan dapat terjun bebas kedunia rekaan Paver yang penuh hal-hal gaib.  Detail yang dibangun Paver juga sangat meyakinkan keberadaan jaman purbakala yang diceritakannya.  Ditangan Paver, Torak menjadi hidup, beremosi, naïf dan juga penuh perhitungan.

Yang paling menarik dan unik adalah saat Paver bercerita melalui sudut pandang si Serigala.  Segalanya menjadi begitu indah dan menakjubkan,  memikirkan tahu bagaimana jalan pikiran si serigala.  Pembaca akan punya chemistry tersendiri dengan tokoh rekaan ini,  baik pada si Tinggi tak Berekor, maupun pada si Serigala kecil yang menggemaskan.  Dan Paver malakukannya  dengan sangat meyakinkan.  Memang seakan-akan si Serigala sendiri yang bercerita dengan nyata dan naïf,  khas pandangan serigala.

Cerita bagus dengan penokohan yang briliian, setting memukau dengan ketegangan hampir di setiap halaman, sangat meyakinkan akan kesuksesan buku ini.  Namun ada yang kurang saat membaca buku Wolf Brother – seri pertama dari Chronicles of Ancient Darkness ini,  humor.  Rasanya, yang sempat mencuri senyum dari cerita ini hanya saat mendengarkan si serigala bercerita mengenai Torak dan Betina tak berekor – Renn.  Atau memang manusia purba belum mengenal humor atau memang tidak ada rasa humor bagi manusia purba akibat hidup yang keras.  Atau mungkin penerjemahan buku ini yang kurang fleksibel menangkap makna-makna tersembunyi dari bahasa aslinya.

Kekurangan juga timbul saat berkenalakn dengan tokoh antagonis.  Tidak ada tokoh yang benar-benar jahat.  Sejauh pada buku I, kita hanya mereka-reka sejahat apa si Pengmbara Pincang, walau setan kreasinya dalam beruang cukup membunuh, namun sekali kali tidak cukup membuat takut.  Atau kemudian Hord yang sombong.  Tapi, dia hanya manusia serakah yang egois yang hanya tidak dapat mengendalikan ambisinya.

Satu lagi yang cukup disayangkan,  kisah ini cenderung tertebak.  Misteri yang coba dibangun lewat ramalan-ramalan mengenai si Pendengar, kurang berhasil membuat saya curiga akan sesuatu yang lain dibalik makna kata.  Dan saat membaca ending, kekhawatiran saya itu terbukti, ending sedikit menggantung ditambah kesedihan bukan main akibat berpisah dengan si Serigala.  Semoga hal ini tidak terjadi lagi di buku-buku berikutnya.  Atau, apa masih ada misteri yang tersisa untuk dikorek di buku-buku selanjutnya.  Sayangnya, penulis tidak menyisahkan itu.  Hampir tak ada yang tertinggal untuk ditunggu di petualangan Torak selanjutnya.

Nuansa cerita Chronicles of Ancient Darkness – buku I,  lebih dekat pada kisah Chronicles of Narnia, daripada kisah Harry Potter.  Namun, menurut saya, Ancient Darkness lebih seru dan tegang dari pada Narnia. Torak juga tidak memikul beban moral yang terlalu berat – salah satu sebab yang membuat Narnia jadi tidak asyik.  Namun seperti Narnia, Ancient Darkness sedikit datar dalam ketegangan yang sudah dibangun sejak awal.  

Akhirnya, buku Pertama Chronicles of Ancient Darkness, sangat memukau dari sisi penokohan, setting cerita, ide dan sudut pandang penceritaan, namun kurang dari segi alur cerita, ending dan humor.  Chronicles of Ancient Darkness – buku I lebih menjadi cerita seru mengharukan, dapipada cerita seru mengasikkan.  Namun, sebagai buku pertama dari serial ini, Wolf Brother berhasil meletakkan dasar-dasar kuat yang bakal bisa spektakuler di buku-buku selanjutnya.  Pengenalan karakter cerita sudah cukup melekat kuat bagi pembaca.  Buku ini juga penghibur berguna bagi semua umur.  Kenyataan tidak semua orang dewasa tertarik pada hidup jaman purbakala, menjadi nilai tersendiri untuk memacu mereka membaca kisah ini – dan menyadari bahwa hidup jaman purbakala itu bisa mengasyikkan juga.. 

 

Source: http://www.penerbitmatahati.com

 

 

 

Penulis:

Saya Orang Yang Humoris!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s